“Bahasa Sepak Bola” Leo Messi Menjawab Nyinyiran Pele

Sepak Bola —Rabu, 15 Sep 2021 11:28
    Bagikan  
“Bahasa Sepak Bola” Leo Messi Menjawab Nyinyiran Pele
“Bahasa Sepak Bola” Leo Messi Menjawab Nyinyiran Pele/Pixabay

SPANYOL, DEPOSTBORNEO.C0M

PASAL apa lagi yang akan diusung Pele untuk memarginalisasi kehebatan Lionel Messi?
Rekor gol internasional “Raja” bernama asli Edson Arantes Do Nascimento itu telah dilewati. Dengan caranya sendiri, Messi juga menjawab keraguan Pele tentang kemampuan teknis yang kurang beragam, dengan tudingan Leo Messi hanya hebat dengan kaki kiri.
Rasanya Pele tak patut lagi membandingkan La Pulga dengan Diego Maradona atas nama trofi untuk tim nasional. Bukankah Messi juga telah membukukannya?

Bahkan pada level persaingan dan sistem bermain di era sepak bola sekarang, Messi terbukti mampu merawat eksistensi dengan jangka waktu yang lebih panjang. Hampir selama 20 tahun dia konsisten berada di orbit elite.
Tak perlu pula mengapungkan wacana, bahwa Zlatan Ibrahimovic dan Neymar Junior lebih baik dari Messi. Semua tahu, beberapa kali Pele membandingkan Messi dengan mereka.
Setiap bintang punya keunggulan masing-masing. Secara objektif Messi ditopang oleh faktor pembeda dalam hal bakat lahir yang eksepsional, antara anugerah dan seni. Bukti koleksi trofi tim maupun raihan individu dibandingkan dengan bintang yang lain juga menunjukkan pengakuan para stakeholder sepak bola dunia. 

Hanya Jago Kiri
Pada 2019, Pele pernah “meremehkan” Leo Messi, yang disebutnya hanya jago dalam menggunakan kaki kiri, lemah dalam kemampuan sundulan dan kaki kanan. Permainan yang “kekiri-kirian” ini sebenarnya mirip dengan Maradona yang juga kidal.
Dengan caranya sendiri, Messi menjawab nyinyiran Pele. Pada 10 September kemarin, ketika mencetak hattrick untuk mengalahkan Bolivia 3-0 dalam laga Pra-Piala Dunia 2022 di Stadion River Plate, kualitas Messi terlihat lengkap. La Pulga mencetak gol pada menit me-14, 64, dan 88. Gol pertama dicetak lewat pameran teknik individu luar biasa, lolos dari kepungan pemain lawan, sebelum kaki kanannya mengakhiri manuver dengan membobol gawang lawan!

Dua dari tiga gol itu cukup untuk melewati rekor Pele sebagai pencetak gol tersubur tim nasional di Amerika Latin. Diperkirakan pundi-pundi gol Messi akan terus terisi mengingat dia masih berusia 34.
Tahun lalu Messi menjajari rekor gol Pele yang dicetak untuk satu klub. Sang “Raja” membendaharakan 643 gol untuk Santos FC. Messi mencetak gol penyama rekor itu ke gawang Valencia di La Liga. Yang istimewa, dia mencetak gol lewat sundulan kepala, kemampuan yang diragukan oleh Pele. Dalam laga itu, Barcelona ditahan imbang 2-2.
Mestinya Pele juga mencatat, Messi mencetak gol dengan sundulan brilian ketika Barcelona menaklukkan Manchester Unuted dalam final Liga Champions 2009. Gaya dan arah sundulan yang membuat kiper sekelas Edwin van der Saar tak menduga! 

Baca juga: Mengenal Lebih Dalam Pakaian Adat Jawa Tengah

Baca juga: Problem Bayi Kembar Siam, Arka dan Arya Tertangani di RSUD dr Moewardi Surakarta

Tak Suka Jemawa
Messi memang bukan sosok megabintang yang suka berbicara dengan jemawa. Dia tidak pernah memperlihatkan emosi rivalitas dengan sejumlah bintang lainnya, termasuk dengan seteru abadinya, Cristiano Ronaldo.
Seperti performa personalnya yang terlihat introvert, Si Alien tidak terbiasa memanaskan persaingan dengan bla-bla-bla dan melancarkan mindgame untuk mengusik mental lawan. Bandingkan misalnya dengan Pele yang sering membuat statemen pembandingan, juga Ibrahimovic yang konfiden dengan narasi-narasi ofensif, atau Ronaldo yang biasa menyampaikan ketidaksukaan dengan bahasa tubuh (gestur).

Beberapa kali, dalam sejumlah momen pertandingan, sebagai manusia, Lionel Messi memang mengekspresikan “komplain” kepada pemain lawan karena tidak tahan dijadikan bulan-bulanan penjagaan kasar. Namun, di luar lapangan dia bukan sosok yang suka mengomentari kualitas individual lawan. Dia tidak akan melayani ketika media menghadapkannya dengan pemain lain secara head to head. Messi memilih menjawab semua keraguan, tudingan, atau penilaian dengan permainan dan gol-gol.
Pun, andai dipojokkan untuk menjawab siapa yang lebih hebat: Pele, Maradona, dia sendiri atau Ronaldo, yakinilah Messi bukan tipe orang yang akan dengan “tega” menepuk dada.

Katakan bahwa dia tidak mampu mencetak gol dengan sundulan, maka suatu ketika dan sudah dibuktikan dia akan melakukannya. Ketika Pele menyebut Messi tidak mampu menggunakan kaki kanannya, apa yang dia lakukan? Gawang Bolivia telah merasakan keampuhan kaki yang diragukan itu.
Atau, ketika banyak pihak skeptik tentang kemampuannya memberi trofi dari turnamen mayor untuk Argentina, dia pun membuktikan dengan cara penuh gaya. Justru pada usia 34, bersama Albiceleste dia mempersembahkan Copa America, dan terpilih sebagai Pemain Terbaik Turnamen.
Sebelum ini, Messi gagal di final Copa America 2015 dan 2016, lalu Piala Dunia 2014. Dia pun sempat makin diragukan: bakal mampukah “menyamai” Maradona yang sukses di Piala Dunia 1986 dan Piala Dunia Yunior 1977?
Nyatanya Messi bisa. Copa akhirnya diraih pada tahun ini lewat kematangan penampilan, melengkapi trofi Piala Dunia Yunior 2005 dan medali emas Olimpiade 2008.
Dengan semua catatan itu, tidaklah adil apabila tidak mengakui betapa pemain Paris St Germain itu memang berbeda.
Bahasa Messi adalah bahasa sepak bola...

Sumber Depostborneo.com- Amir Machmud NS, wartawan senior, kolumnis sepak bola, dan penulis buku.


Editor: Ajeng
    Bagikan  

Berita Terkait